Asal Usul Motif Batik Truntum karena Istri Menolak Poligami

Asal Usul Motif Batik Truntum karena Istri Menolak Poligami

Fashion and Batik Designer Nusantara Wisdom Consultant, Era Soekamto berbagi ilmu tentang pemaknaan batik dalam Live Instagram @cantikadotcom Cerita Cantika bertajuk “Batik, Guru Kehidupan” pada Jumat, 1 Oktober 2021. Setiap motif dan warna batik punya filosofi tentang kehidupan.

“Batik adalah seni sakral yang menceritakan tentang Tuhan di dalam diri dan menceritakan halusnya budi pekerti tentang linuwih,” kata Era Soekamto dalam diskusi memperingati Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober. Dengan begitu, menurut dia, “pakem” atau makna dari batik yang sesungguhnya adalah soal ketuhanan.

Batik berperan sebagai alat komunikasi lewat doa yang bersemayam dalam setiap motif atau pola. Dia mencontohkan motif batik truntum yang kerap dipakai oleh pasangan pengantin.

Di balik motif batik truntum, Era Soekamto menjelaskan, terdapat cerita tentang seorang raja yang hendak poligami. Permaisuri menolak, namun dengan cara yang sangat halus.

Sang ratu terus-menerus membatik dengan membuat titik-titik seperti cahaya dan bunga melati yang berderet. Begitu indah, runut, dan kecil, sampai suami memuji betapa konsisten seolah berada di jalan kebaikan. Melihat ketekunan itu, suami urung poligami.

“Meski terdengar mudah untuk dicerna, sebenarnya itu (motif dalam batik truntum) merupakan simbol,” ujar Era. “Simbol mencintai Tuhan, istiqomah dalam kesetiaan, sujud dalam setiap saat, dan senantiasa memenggal ego, nafsu, dan keinginan sehingga bisa membuat motif yang konsisten.”

HilmiRahasia dari kesuksesan kita adalah bahwa kita tidak pernah menyerah.

Posting Komentar untuk "Asal Usul Motif Batik Truntum karena Istri Menolak Poligami"

Silakan tinggalkan komentar. Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *